catatan lama

Hujan tak berhenti turun di luar
Dinginnya terbawa angin melalui kaca jendela yang terbuka
Kuhirup rokok ringan dalam-dalam
Asapnya sengaja kusimpan lama di dalam mulutku
Kemudian kukeluarkan lewat hidung
Majalah lama tentang gaya hidup dan fashion yang berorientasi uniseks telah kubolak-balik halaman demi halamannya
Dari tadi musik yang tersaji seolah terlupakan walaupun itu merupakan pelengkap keindahan
Lagu-lagu lama dari A-Ha mengantarkan imajiku ke waktu yang telah lama berlalu
Aku tahu hujan tak akan berhenti sampai malam
Sore berkabut mewarnai hati kosong
Kuingin melarungkan diri dalam hujan
Kumau dinginnya mengalir di hatiku yang kosong
>> Sabtu, 2 Oktober 2010 / 15:43 – Panorama 29A, Bukittinggi

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

bioskop, menonton, dan…

Salah satu kekurangasyikkan tinggal di daerah adalah tidak tersedianya bioskop yang memadai. Dahulu kala kota ini [Bukittinggi] punya tiga gedung bioskop yang cukup besar walau satu gedung hanya punya satu studio. Ketiga bioskop itu bernama Sovya, Gloria, dan Eri. Sovya hampir selalu memutar film Indonesia, Gloria dengan film barat [Hollywood], sedangkan Eri khusus film India [Bollywood]. Sekarang hanya Eri yang masih beroperasi, itu pun film yang ditayangkan bukanlah film-film baru. Mostly, film-film yang rilis beberapa tahun lampau. Mereka kini memutar film barat, India, dan lokal. Kadang film Indonesia yang ditayangkan merupakan film-film tahun 1990an, yaitu film yang agak-agak ‘syur’ dengan judul sedikit ‘ajaib’.
Saya heran dengan semakin majunya perfilman Indonesia, sarana untuk menontonnya malah semakin berkurang bahkan menghilang di sini. Hebohnya sebuah film di Jakarta dan kota lainnya, gaungnya tidak sampai ke sini. Saya tahunya di Twitter atau jejaring sosial lainnya. Waktu kuliah di Padang tahun 1992-1997, saya dan para mahasiswa yang lain terbiasa menonton di bioskop Raya Theater, President, Karya, Buana [Citra], dan Arjuna. Walaupun saat itu Padang sebagai ibukota propinsi tidak punya bioskop jaringan 21 [sampai saat ini Padang juga tidak punya bioskop 21, hehehe…]! Biasanya, film-film Hollywood yang ditayangkan di bioskop Raya dan President telat sebulan dari waktu tayang di Jakarta. Sedangkan bioskop Karya memutar seminggu setelah Raya dan President. Kadang kala, ada beberapa film yang telat sekali diputar di Padang. Bagi saya mahasiswa yang kos di Padang, lebih memilih menonton di bioskop Arjuna dan Citra. Kedua bioskop tersebut menayangkan film-film barat seminggu setelah turun dari bioskop Karya. Otomatis harga tiket pun turun. Kalau tidak salah Rp 2.000. Dan kebetulan bioskop Arjuna berlokasi di Jati, sangat dekat dari tempat kos saya. Di tahun-tahun tersebut, saya sering dapat free pass [tiket gratis] menonton di Karya dan President dari teman saya, Yessy. Bapaknya merupakan sekretaris pengusaha bioskop lokal. Saya juga tahu dari dia bahwa jaringan 21 tidak mungkin [bisa] masuk ke Padang karena para pengusaha bioskop lokal menolaknya. Mereka sangat takut bioskop-bioskop di Kota Padang akan mati, kalah bersaing dengan bioskop 21. Sebagai tambahan, katanya bioskop Galaxy [yang tidak 21] di Tajur Bogor sekarang kurang peminat setelah Ekalokasari, Botani Square, dan BTM punya 21. Dulu di awal tahun 2000 sampai 2008, orang-orang lebih memilih menonton di Galaxy ketimbang di Dewi Sartika 21 di Pasar Anyar. Dewi Sartika 21 adalah satu-satunya bioskop 21 di Bogor sampai tahun 2007.
Akhir Desember 2009, saya menonton “Sang Pemimpi” di bioskop Raya Padang karena tidak sempat nonton di Jakarta atau Bogor karena keburu pulang [pindah] duluan ke Bukittinggi. Namun, kondisi bioskop tersebut tidak sebaik zaman dulu. Sound system-nya tidak lagi jernih. Suara pemain film dan musik latar tidak terdengar secara jelas. Suara rol film di ruang proyektor terdengar ke dalam studio. Anehnya lagi, harga tanda masuk [HTM] sama dengan bioskop 21 di Jakarta dan sekitarnya. Sepertinya pemilik bioskop tersebut tidak me-maintain tempat usahanya.
Saya menduga kemunduran bioskop-bioskop di Kota Padang bermula dari era reformasi. Bioskop President ikut menjadi sasaran amuk massa ketika demonstrasi besar-besaran pada Mei 1998 di banyak tempat di Indonesia. Setelah itu, film-film yang ditayangkan di bioskop-bioskop di Kota Padang tidak lagi film-film yang baru. Sementara di Bukittinggi, hanya bioskop Eri yang masih beroperasi. Sovya sempat menjadi posko salah satu calon walikota beberapa waktu yang lalu. Bioskop Gloria disita oleh Pemda Bukittinggi pada akhir 2008. Lahan tempat berdirinya bioskop tersebut merupakan milik Pemda, sedangkan kontrak penggunaan tempatnya sudah lama berakhir.
Selanjutnya… pada bulan Juli 1998 saya merantau ke Jakarta, terus pindah dan tinggal di Bogor akhir Maret 2000, dan pulang kampung Desember 2009. Sekarang… saya rindu Jakarta dan Bogor, tempat saya bisa menonton film-film baru yang beraneka ragam. Saya juga sangat rindu dengan suasana festival-festival film di Jakarta seperti Jiffest, Festival Sinema Prancis, British Film Festival, Europe Film Festival, Q!FF, Slingshort, dan lain sebagainya.
Terakhir kali saya menonton film di layar lebar yakni pada Jumat sore tanggal 24 Desember 2010. Saya menonton “Sang Pencerah” di Auditorium RRI Bukittinggi. Acara tersebut diadakan oleh Muhammadiyah Bukittinggi. Screening-nya tidak bagus!

[10.50am: sedang mendengarkan lagu-lagu Indonesia tahun 1970an]

Posted in Uncategorized | Leave a comment

membakar masa lalu…

Membakar masa lalu samakah melupakan kenangan masa silam? Tepat setahun lalu ketika pindah ke sini, ke rumah baru Ibu di kampung, saya memboyong barang-barang saya dari Bogor. Ada begitu banyak barang atau koleksi yang saya bawa. Sesungguhnya, itu hanya ¼ dari semua kepunyaan saya. Selebihnya saya tinggal di Bogor – ada yang saya jual murah dan banyak yang saya bagi-bagikan kepada tetangga satu kompleks.
Salah satu dari barang-barang yang saya bawa adalah kumpulan surat-surat pribadi saya zaman dulu, kala saya masih SMA di Bukittinggi, kuliah di Padang, dan bekerja/tinggal di Jakarta dan Bogor. Surat-surat itu berumur belasan sampai dua puluhan tahun. Dan berhubung saya tidak punya kamar yang besar dengan barang bawaan yang lumayan banyak, akhirnya kumpulan surat-surat pribadi itu dibakar dengan alasan untuk kenyamanan. Sebelum membakarnya, saya sempat membaca beberapa surat di samping tempat pembakaran. Kemudian dengan perasaan yang tidak stabil, surat-surat itu saya lempar ke api yang menyala di satu siang. Badan saya bau asap.
Karena alasan tempat yang tidak memadai, saya juga merelakan sebagian dari barang-barang yang saya bawa dibagikan lagi kepada tetangga terdekat dan sanak saudara. By the way, surat-surat itu mostly berasal dari teman SMA saya, Tienn Immerie. Waktu itu dia pindah sekolah ke Pangkal Pinang di Pulau Bangka mengikuti bapaknya yang pindah kerja, dan kemudian kuliah di Sastra Jepang, UGM. Sebulan yang lalu saya baca di koran lokal [Singgalang], dia menjadi Wakil Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Budaya, Universitas Bung Hatta Padang.
Saya bertanya kepada diri saya apakah membakar surat-surat lama sama dengan membakar kenangan masa lalu?

[while listening to Alanis Morissette’s “Mary Jane” – Ganting, Agam : 10.30am, Thursday-January 27, 2011]

Posted in Uncategorized | Leave a comment

sarapan…

Makan pagi yang tertunda. Itu karena saya bangunnya juga tertunda alias sangat telat. Saya bangun jam 9.25 lantaran saya tidur jam 2.25 pagi. Selepas menonton Kick Andy tadi malam, saya asyik mengetik sampai akhirnya saya memutuskan harus beranjak tidur.
Sarapan saya yang tertunda tadi adalah sepiring nasi goreng buatan Ibu. Saya memanggil ibu saya dengan sebutan Ama’. Nasi goreng Ama’ tadi sungguh enak. Sumpah! Kalaupun ada cacat, itu hanya karena sedikit kelebihan minyak goreng [rather oily].
Sekarang saya sendiri di rumah. Ama’ dan Ap [the way I call my father], juga adik-adik saya ke rumah sakit membezuk Papi [adiknya Ap] yang menjalani operasi prostat hari ini. Rumah ini sepi, hening, syahdu. Hanya lagu-lagu usang yang membahana. Dulu, saya terbiasa tinggal sendiri: di Padang zaman kuliah, di Bogor ketika bekerja. Kini, saya pulang dan hidup dengan keluarga besar saya. Waktu sarapan tadi, saya merasa seperti di masa lampau: tinggal sendiri, menikmati akhir pekan sendiri sambil mendengarkan musik, menulis, dan merokok Marlboro Light. Namun kali ini, suasananya sedikit berubah. Saya tidak merokok lagi secara reguler.
Mmm… selamat berakhir pekan!

[Ganting, Agam – 10.35: Sabtu, 29 Januari 2011, sedang mendengarkan lagu-lagu Humania dari album ‘Interaksi’ @1999-2000]

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dari pertengahan tahun silam saya ingin punya website atau blog sendiri yang berisi tentang apa saja yang saya inginkan. Saya ingin menulis apa saja, meng-upload foto-foto yang saya jepret, atau meng-copy paste catatan-catatan lama saya yang merupakan jurnal pribadi atau coret-coretan [tidak] penting atau bermanfaat [paling tidak untuk diri saya sendiri]. Saya juga ingin me-review musik [kaset atau compact disc], film, buku, makanan, kegiatan seni [art & culture event], kegiatan olahraga [sports event], pandangan pribadi tentang banyak hal, catatan harian [daily journal], dan lain sebagainya. Sebenarnya saya sudah punya blog, yaitu Multiply [blog ini]. Tetapi, sudah dua tahun lebih saya tidak ‘mengisi’-nya. Kadang kala, saya hanya me-reply atau memberi tanggapan pada posting-an kawan-kawan. Sekarang saya punya keinginan yang sangat besar untuk punya blog atau menghidupkan blog lama saya. Sebagai tambahan, saya tidak tinggal di Bogor lagi yang notabene tempat ‘bermain’ saya adalah Jakarta – yang artinya saya [bisa] menulis tentang kegiatan di sini [Sumatra Barat]. Saya harap saya bisa dan mau melakukannya. [while listening to Alan Parson Project’s “If I Could Change Your Mind” – Ganting, Agam : 10.05am, Thursday-January 27, 2011]

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment