bioskop, menonton, dan…

Salah satu kekurangasyikkan tinggal di daerah adalah tidak tersedianya bioskop yang memadai. Dahulu kala kota ini [Bukittinggi] punya tiga gedung bioskop yang cukup besar walau satu gedung hanya punya satu studio. Ketiga bioskop itu bernama Sovya, Gloria, dan Eri. Sovya hampir selalu memutar film Indonesia, Gloria dengan film barat [Hollywood], sedangkan Eri khusus film India [Bollywood]. Sekarang hanya Eri yang masih beroperasi, itu pun film yang ditayangkan bukanlah film-film baru. Mostly, film-film yang rilis beberapa tahun lampau. Mereka kini memutar film barat, India, dan lokal. Kadang film Indonesia yang ditayangkan merupakan film-film tahun 1990an, yaitu film yang agak-agak ‘syur’ dengan judul sedikit ‘ajaib’.
Saya heran dengan semakin majunya perfilman Indonesia, sarana untuk menontonnya malah semakin berkurang bahkan menghilang di sini. Hebohnya sebuah film di Jakarta dan kota lainnya, gaungnya tidak sampai ke sini. Saya tahunya di Twitter atau jejaring sosial lainnya. Waktu kuliah di Padang tahun 1992-1997, saya dan para mahasiswa yang lain terbiasa menonton di bioskop Raya Theater, President, Karya, Buana [Citra], dan Arjuna. Walaupun saat itu Padang sebagai ibukota propinsi tidak punya bioskop jaringan 21 [sampai saat ini Padang juga tidak punya bioskop 21, hehehe…]! Biasanya, film-film Hollywood yang ditayangkan di bioskop Raya dan President telat sebulan dari waktu tayang di Jakarta. Sedangkan bioskop Karya memutar seminggu setelah Raya dan President. Kadang kala, ada beberapa film yang telat sekali diputar di Padang. Bagi saya mahasiswa yang kos di Padang, lebih memilih menonton di bioskop Arjuna dan Citra. Kedua bioskop tersebut menayangkan film-film barat seminggu setelah turun dari bioskop Karya. Otomatis harga tiket pun turun. Kalau tidak salah Rp 2.000. Dan kebetulan bioskop Arjuna berlokasi di Jati, sangat dekat dari tempat kos saya. Di tahun-tahun tersebut, saya sering dapat free pass [tiket gratis] menonton di Karya dan President dari teman saya, Yessy. Bapaknya merupakan sekretaris pengusaha bioskop lokal. Saya juga tahu dari dia bahwa jaringan 21 tidak mungkin [bisa] masuk ke Padang karena para pengusaha bioskop lokal menolaknya. Mereka sangat takut bioskop-bioskop di Kota Padang akan mati, kalah bersaing dengan bioskop 21. Sebagai tambahan, katanya bioskop Galaxy [yang tidak 21] di Tajur Bogor sekarang kurang peminat setelah Ekalokasari, Botani Square, dan BTM punya 21. Dulu di awal tahun 2000 sampai 2008, orang-orang lebih memilih menonton di Galaxy ketimbang di Dewi Sartika 21 di Pasar Anyar. Dewi Sartika 21 adalah satu-satunya bioskop 21 di Bogor sampai tahun 2007.
Akhir Desember 2009, saya menonton “Sang Pemimpi” di bioskop Raya Padang karena tidak sempat nonton di Jakarta atau Bogor karena keburu pulang [pindah] duluan ke Bukittinggi. Namun, kondisi bioskop tersebut tidak sebaik zaman dulu. Sound system-nya tidak lagi jernih. Suara pemain film dan musik latar tidak terdengar secara jelas. Suara rol film di ruang proyektor terdengar ke dalam studio. Anehnya lagi, harga tanda masuk [HTM] sama dengan bioskop 21 di Jakarta dan sekitarnya. Sepertinya pemilik bioskop tersebut tidak me-maintain tempat usahanya.
Saya menduga kemunduran bioskop-bioskop di Kota Padang bermula dari era reformasi. Bioskop President ikut menjadi sasaran amuk massa ketika demonstrasi besar-besaran pada Mei 1998 di banyak tempat di Indonesia. Setelah itu, film-film yang ditayangkan di bioskop-bioskop di Kota Padang tidak lagi film-film yang baru. Sementara di Bukittinggi, hanya bioskop Eri yang masih beroperasi. Sovya sempat menjadi posko salah satu calon walikota beberapa waktu yang lalu. Bioskop Gloria disita oleh Pemda Bukittinggi pada akhir 2008. Lahan tempat berdirinya bioskop tersebut merupakan milik Pemda, sedangkan kontrak penggunaan tempatnya sudah lama berakhir.
Selanjutnya… pada bulan Juli 1998 saya merantau ke Jakarta, terus pindah dan tinggal di Bogor akhir Maret 2000, dan pulang kampung Desember 2009. Sekarang… saya rindu Jakarta dan Bogor, tempat saya bisa menonton film-film baru yang beraneka ragam. Saya juga sangat rindu dengan suasana festival-festival film di Jakarta seperti Jiffest, Festival Sinema Prancis, British Film Festival, Europe Film Festival, Q!FF, Slingshort, dan lain sebagainya.
Terakhir kali saya menonton film di layar lebar yakni pada Jumat sore tanggal 24 Desember 2010. Saya menonton “Sang Pencerah” di Auditorium RRI Bukittinggi. Acara tersebut diadakan oleh Muhammadiyah Bukittinggi. Screening-nya tidak bagus!

[10.50am: sedang mendengarkan lagu-lagu Indonesia tahun 1970an]

Advertisements

About donnisaid

suka musik!
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s